BEWBIN

Di Tengah Ledakan AI, Apa yang Seharusnya Dilakukan BRIN?

Kalau ada satu teknologi yang membuat banyak negara berlomba-lomba dalam beberapa tahun terakhir, jawabannya mungkin bukan lagi internet, melainkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Hampir setiap minggu selalu ada perkembangan baru. Ada AI yang mampu membuat video realistis hanya dari teks, AI yang membantu ilmuwan menemukan obat, sampai AI yang bisa menulis program komputer dalam hitungan detik. Perkembangannya begitu cepat sampai kadang berita yang viral bulan lalu sudah terasa usang hari ini.

Sebagai masyarakat biasa, mungkin kita melihat AI hanya sebagai alat bantu untuk bekerja atau belajar. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang negara, AI sebenarnya jauh lebih besar daripada itu. Teknologi ini mulai menyentuh sektor ekonomi, pendidikan, pertahanan, kesehatan, industri, hingga kedaulatan data.

Di sinilah peran lembaga seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi sangat penting.

Pertanyaannya, apa yang sebenarnya perlu dilakukan BRIN agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga ikut berperan dalam perkembangannya?


Jujur saja, salah satu hal yang cukup mengkhawatirkan adalah kebiasaan Indonesia yang sering terlambat masuk ke sebuah gelombang teknologi.

Ketika internet berkembang pesat, sebagian besar teknologi utama lahir dari luar negeri.

Ketika media sosial meledak, platform yang digunakan masyarakat Indonesia juga hampir semuanya berasal dari luar negeri.

Hari ini, ketika AI menjadi teknologi paling berpengaruh di dunia, ada risiko yang sama terulang kembali. Kita menjadi pasar yang sangat besar, tetapi hanya menjadi pengguna, bukan pencipta.

Padahal jumlah penduduk Indonesia lebih dari 280 juta jiwa. Data yang dihasilkan masyarakat setiap hari sangat besar. Talenta muda di bidang teknologi juga semakin banyak. Secara teori, Indonesia memiliki modal yang cukup untuk ikut bermain dalam ekosistem AI global.

Masalahnya bukan pada potensi. Masalahnya adalah bagaimana potensi tersebut diorganisir dan diarahkan.


Kalau melihat perkembangan saat ini, menurut saya BRIN tidak bisa lagi hanya berfokus pada penelitian yang berhenti di jurnal atau laporan akademik.

Penelitian tetap penting, tentu saja. Tapi dunia AI bergerak terlalu cepat untuk hanya diukur dari jumlah publikasi ilmiah.

Yang dibutuhkan sekarang adalah riset yang benar-benar bisa diterapkan.

Bayangkan jika BRIN memiliki program nasional yang secara khusus mendukung pengembangan AI berbahasa Indonesia dengan kualitas setara produk internasional. Atau membangun model AI yang memahami konteks budaya, bahasa daerah, dan karakter masyarakat Indonesia yang sangat beragam.

Hal-hal seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat besar dalam jangka panjang.

Karena sampai hari ini sebagian besar teknologi AI yang digunakan masyarakat Indonesia masih dikembangkan di luar negeri dengan perspektif yang belum tentu sepenuhnya memahami kondisi lokal.


Ada hal lain yang menurut saya cukup penting tetapi jarang dibahas.

Indonesia memiliki masalah yang sangat khas dan berbeda dengan negara maju.

Negara maju mungkin fokus pada robot industri atau kendaraan otonom. Sementara Indonesia masih menghadapi tantangan seperti pemerataan pendidikan, produktivitas UMKM, akses kesehatan, dan efisiensi birokrasi.

Kalau saya berada di posisi perancang kebijakan, justru AI akan diarahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut terlebih dahulu.

Bayangkan jika guru di daerah terpencil memiliki asisten AI yang membantu membuat materi pembelajaran.

Bayangkan jika petani bisa memperoleh rekomendasi pertanian berbasis data cuaca dan kondisi tanah hanya melalui ponsel.

Bayangkan jika UMKM kecil bisa mendapatkan bantuan pemasaran digital tanpa harus menyewa konsultan mahal.

Dampaknya mungkin tidak seviral mobil tanpa sopir, tetapi manfaatnya bisa langsung dirasakan jutaan orang.


Satu hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah pengembangan sumber daya manusia.

Karena sejujurnya, teknologi secanggih apa pun tidak akan banyak berarti jika jumlah orang yang mampu mengembangkannya masih terbatas.

Saat ini banyak anak muda Indonesia yang tertarik belajar AI, coding, data science, dan teknologi digital lainnya. Namun jalurnya sering kali masih terasa terpisah-pisah.

Ada yang belajar dari YouTube.

Ada yang mengikuti kursus online.

Ada yang belajar sendiri dari internet.

Tidak sedikit yang akhirnya berhasil. Tapi banyak juga yang menyerah di tengah jalan karena tidak tahu harus mulai dari mana.

Di sinilah BRIN sebenarnya bisa mengambil peran yang lebih besar.

Bukan hanya sebagai lembaga riset, tetapi juga sebagai jembatan yang menghubungkan peneliti, kampus, industri, startup, dan masyarakat umum.

Karena kalau melihat negara-negara yang berhasil membangun ekosistem teknologi kuat, hampir semuanya memiliki hubungan yang erat antara dunia penelitian dan dunia industri.


Yang menarik, perkembangan AI juga membuka peluang ekonomi yang sebelumnya tidak pernah ada.

Hari ini seseorang bisa bekerja untuk perusahaan luar negeri dari rumah hanya bermodalkan laptop dan internet. Banyak pekerjaan digital baru bermunculan. Bahkan AI sendiri menciptakan kebutuhan akan profesi-profesi yang beberapa tahun lalu belum dikenal.

Fenomena ini sebenarnya bisa menjadi peluang besar bagi Indonesia.

Daripada hanya melihat AI sebagai ancaman yang akan menggantikan pekerjaan manusia, mungkin sudah saatnya fokus diarahkan pada bagaimana teknologi ini bisa menciptakan lapangan kerja baru.

Karena sejarah menunjukkan bahwa setiap revolusi teknologi memang menghilangkan sebagian pekerjaan lama, tetapi juga melahirkan jenis pekerjaan baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.


Yang juga perlu dipikirkan adalah soal kedaulatan teknologi.

Mungkin istilah ini terdengar berat, tetapi sebenarnya cukup sederhana.

Saat sebagian besar teknologi strategis berasal dari luar negeri, maka sebagian besar ketergantungan juga berada di luar negeri.

Hari ini mungkin tidak terasa.

Tapi beberapa tahun ke depan, ketika AI semakin terintegrasi dengan pendidikan, ekonomi, kesehatan, hingga pemerintahan, pertanyaan tentang siapa yang menguasai teknologi akan menjadi semakin penting.

Karena itu Indonesia tetap perlu memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi sendiri, meskipun mungkin tidak harus bersaing langsung dengan perusahaan teknologi terbesar dunia.


Kalau ditanya apa yang paling perlu dilakukan BRIN hari ini, jawabannya mungkin bukan sekadar membuat Indonesia memiliki AI sendiri.

Yang lebih penting adalah memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam perubahan yang sedang terjadi.

Karena perkembangan AI tidak akan menunggu negara yang belum siap.

Teknologi ini akan terus bergerak maju dengan atau tanpa kita.

Dan mungkin tantangan terbesar BRIN saat ini bukan bagaimana menciptakan teknologi paling canggih, melainkan bagaimana memastikan hasil riset dan inovasi benar-benar membantu masyarakat menghadapi perubahan zaman yang berlangsung jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.

Kalau itu bisa dilakukan, peran BRIN tidak hanya penting bagi dunia penelitian, tetapi juga bagi masa depan ekonomi, pendidikan, dan daya saing Indonesia secara keseluruhan.