Rupiah Lagi Melemah, Masih Nekat Traveling ke Luar Negeri?

Jujur saja, beberapa tahun lalu saya termasuk orang yang kalau lihat kurs dolar naik langsung berpikir, “wah, liburan ke luar negeri makin susah nih.”

Dan mungkin banyak orang Indonesia merasakan hal yang sama sekarang.

Setiap kali buka berita ekonomi, yang muncul kurs dolar. Setiap kali buka media sosial, ada yang membahas rupiah melemah. Lama-lama kesannya seperti semua hal di luar negeri menjadi mahal dan mustahil dijangkau.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Memang biaya traveling ikut naik. Tidak bisa dipungkiri. Tapi bukan berarti semua rencana perjalanan harus dibatalkan lalu rebahan di rumah sambil menunggu rupiah kembali kuat. Karena kalau menunggu kondisi sempurna, bisa-bisa kesempatan jalan-jalan malah tidak pernah datang.

Yang biasanya perlu diubah bukan mimpinya.

Tapi caranya.


Jangan Memaksakan Negara yang Sedang Tidak Masuk Akal

Ini mungkin terdengar agak menyebalkan.

Tapi kadang kita memang perlu jujur terhadap kondisi dompet.

Kalau kurs dolar sedang tinggi, mungkin sekarang bukan waktu terbaik untuk memaksakan perjalanan ke negara yang memang terkenal mahal.

Bukan berarti tidak boleh.

Hanya saja harus realistis.

Saya sering melihat orang habis-habisan membeli tiket murah ke negara tertentu, lalu begitu sampai sana malah stres karena semua terasa mahal.

Akhirnya bukan menikmati liburan.

Malah sibuk menghitung sisa saldo.


Negara yang Masih Cukup Bersahabat

Kalau tujuan utamanya adalah mendapatkan pengalaman baru tanpa membuat tabungan menangis, beberapa negara Asia masih cukup menarik.

Yang sering direkomendasikan traveler:

  • Thailand
  • Vietnam
  • Malaysia
  • Kamboja
  • Filipina

Vietnam misalnya.

Entah kenapa hampir semua teman yang pulang dari sana selalu punya cerita yang sama.

“Murah ternyata.”

Mungkin tidak murah-murah amat, tapi dibanding banyak negara lain, biaya makan dan transportasinya masih terasa masuk akal.

Thailand juga hampir tidak pernah mengecewakan untuk wisatawan Indonesia.

Makanannya enak.

Transportasinya mudah.

Pilihan wisatanya banyak.

Dan yang paling penting, tidak membuat dompet langsung pingsan.


Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Saat Traveling

Lucunya, kadang masalah terbesar bukan kurs.

Tapi diri sendiri.

Serius.

Ada orang yang berbulan-bulan berburu tiket promo.

Sudah mencari hotel termurah.

Sudah menyusun itinerary sampai warna stabilo berbeda-beda.

Lalu begitu sampai lokasi…

Belanja ugal-ugalan.

Semua dibeli.

Semua mau dibawa pulang.

Akhirnya pengeluaran membengkak jauh lebih besar daripada efek kenaikan dolar yang tadi dikeluhkan.

Kadang musuh terbesar saat traveling memang bukan ekonomi global.

Tapi rasa lapar mata.


Tolong Jangan Berangkat Tanpa Dana Darurat

Ini bagian yang membosankan.

Dan biasanya justru bagian yang paling sering dilewati.

Orang sibuk mencari tempat wisata.

Cari restoran viral.

Cari spot foto Instagram.

Tapi lupa menyiapkan dana cadangan.

Padahal saat berada di negara lain, kejadian aneh bisa muncul kapan saja.

Misalnya:

  • koper hilang
  • pesawat delay
  • dompet tertinggal
  • sakit mendadak
  • paspor bermasalah

Sebagian besar perjalanan memang berjalan lancar.

Tapi kalau apes datang, biaya yang keluar kadang bikin melongo.


Kenapa Asuransi Traveling Itu Penting

Jujur saja, dulu saya juga termasuk orang yang menganggap asuransi traveling itu tidak terlalu penting.

Rasanya seperti mengeluarkan uang untuk sesuatu yang mungkin tidak akan dipakai.

Sampai akhirnya membaca cerita beberapa traveler yang harus masuk rumah sakit di luar negeri.

Tagihannya bukan jutaan.

Kadang puluhan juta.

Bahkan lebih.

Di situ baru terasa kenapa banyak traveler berpengalaman selalu memasukkan asuransi ke dalam daftar persiapan.

Tidak harus yang paling mahal.

Tidak harus yang paling lengkap.

Tapi setidaknya ada perlindungan dasar.

Anggap saja seperti membawa payung.

Semoga tidak hujan.

Tapi kalau hujan datang, kita tidak kebasahan.


Kalau Bisa, Jangan Menukar Uang Sekaligus

Ini kebiasaan yang mulai banyak dilakukan orang.

Daripada menunggu seminggu sebelum berangkat lalu membeli seluruh kebutuhan dolar sekaligus, sebagian traveler membeli sedikit demi sedikit jauh hari sebelumnya.

Saat kurs agak turun, beli sedikit.

Turun lagi, tambah sedikit.

Cara ini memang tidak menjamin dapat kurs terbaik.

Tapi biasanya lebih menenangkan daripada membeli semuanya saat kurs sedang melonjak.


Traveling Itu Bukan Kompetisi

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Media sosial kadang membuat orang lupa kenapa mereka traveling.

Semua harus mewah.

Semua harus viral.

Semua harus terlihat sukses.

Padahal banyak pengalaman terbaik justru datang dari hal-hal sederhana.

Naik kereta lokal.

Ngobrol dengan warga setempat.

Nyasar di gang kecil.

Menemukan makanan enak yang bahkan tidak muncul di TikTok.

Hal-hal seperti itu biasanya jauh lebih membekas dibanding foto hotel mahal.


Penutup

Kalau rupiah sedang melemah, iya, traveling ke luar negeri memang terasa lebih mahal.

Tidak perlu pura-pura bilang tidak.

Tapi bukan berarti dunia tiba-tiba tertutup untuk wisatawan Indonesia.

Mungkin sekarang bukan saatnya terlalu agresif.

Mungkin sekarang waktunya lebih banyak menghitung, lebih banyak membandingkan, dan sedikit menurunkan gengsi.

Karena tujuan traveling sebenarnya bukan pulang membawa foto paling keren.

Tujuannya pulang membawa cerita.

Dan kalau bisa, cerita itu tidak diikuti tagihan kartu kredit yang masih harus dibayar sampai beberapa bulan berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *